Kabut masih menyelimuti
kotakku, hawa dingin yang masuk dicelah celah jendela kamar membuatku malas
beranjak dari tempat tidur. Entah kenapa hari pertama aku sekolah tak ada kata
yang special yang membuatku semangat. Dengan nyawa yang masih setenggah
tertidur aku paksakan untuk beranjak dari kasur untuk mandi.
Dengan tas ransel coklat
lusuh yang harusnya sudah diganti dengan yang baru aku berangakat tanpa
semangat . Hari pertama sekolah identik dengan upacara penyambutan peserta didik baru
dan pembagian kelas. Awalnya aku tidak masalah ditempatkan di kelas gedung biru, tapi setalah aku mengecek siapa saja yang satu kelas denganku, aku sontak
kaget karena orang yang aku benci ternyata satu kelas. Meskipun agak kecewa
dengan pembagian kelas yang tidak adil, tapi tetep aku jalani. Sesampai dikelas
hanya ada 1 bangku yang kosong, dan sebelah bangku itu adalah sosok orang yang
aku benci. Entah semalaman mimpi apa tiba tiba dinobatkan satu kelas dengan
orang itu dan satu bangku juga dengan
orang itu.
Satu minggu sudah aku
sebangku dengan dia. Awalnya aku tidak betah dan pengen pindah, tapi sialku
juga karena tidak ada yang mau duduk dengan dia. Akhirnya kupaksakan untuk
sebangku dengan dia sebulan, dua bulan hingga semester 1 ini berakhir. Tapi kami
juga belum pernah saling sapa. Dua bulan terakhir ini aku sering memperhatikan
dia, lama kelamaan dia sadar aku memperhatikannya. “ngapain lihat lihat?”. Sontak
aku kaget “ohh,enggak cuman aneh aja kenapa kita ngak pernah saling bicara
padahal kita udah lama banget satu bangku, harusnya seperti yang lain. Yang aku
lihat mereka hanya dalam satu minggu saja bisa langsung akrab.” Orang itu cuman
diem dan lihat aku sebentar, rasanya aku merasa bersalah. Mungkin perkataanku tadi menyinggung dia. Dengan keadaan
masih bersalah dan sama sama diem, kami dikejutkan dengan guru yang
menobatkan kami menjadi satu kelompok tugas yang harus dikumpulkan minggu minggu ini.
Sehari setelah keajadian
kemarin, aku beranikan diri menemui dia di perpustakan sekolah untuk membicarakan
soal makalah. Dengan perasaan was was dan takut kalau dia marah lagi aku tetap
menemui dia. “hai, maaf menggangu. Aku kesini mau bicara soal tugas makalah
kemarin, harusnya kita buat makalah tentang apa ya,? Kamu punya ide?”. Dia tetep
sibuk sama dunianya sendiri. Tiba tiba ngak tau kenapa dia bilang “kamu pinjem
buku fotografi, temui aku pulang sekolah ditaman kota.” Aku langsung lari
mencari buku yang menjadi referensi untuk tugas kami. Bel pulang sekolah yang
kutunggu akhirnya berbunyi. Tanpa ganti baju dan makan, aku langsung lari ke
taman kota. Tapi yang aku temui hanya orang orang yang tak ku kenal. 10 menit
aku menunggu dia, 20 menit aku masih menunggu, dan satu jam lebih aku menunggu
dia. Bodohnya aku tidak meminta no HP dia. sebelum dia ngajak ketemuan tadi.
Langit sudah mulai hitam, menandakan
hujan akan turun dia dan belum datang juga. Hujan turun dengan derasnya, aku
berlari mencari tempat berteduh. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore, tapi
dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Tiba tiba HP ku berdering, dan
yang aku lihat ada 1 pesan masuk dari nomor yang tidak ku kenal. Aku buka “maaf
hari ini aku ada acara mendadak, jadi aku ngak bisa bahas tugas kita. Mungkin besok
sore kita bahas ditempat yang sama.
Nathan.” Dengan perasaan kecewa dan seperti dipermainkan, akhirnya kubalas
dengan singkat “ya, aku tunggu besok. Ontime.” Tapi tiba tiba pesan ngak
terkirim, tapi tetep aja aku kirim. Masih tidak trkirim juga. Dan aku beranikan
diri untuk telpon dia dan ternyata “nomor yang anda tuju diluar jangkaun area”. sial, gumamku.
Dengan perasaaan masih
dongkol dan males sama Nathan, aku menerobos hujan yang lama kelamaan semakin
lebat. Akhirnya aku sampai rumah sekitar 05.00 sore, mamah udah siap siap makan
mangsa yang baru pulang ini. Tanpa lihat mamah yang berdiri didepan pintu aku
langsung masuk rumah “assalamualaikum”, “walaikumsalam” jawaban mamah yang beda
dari biasanya. Aku langsung lari kekamar mandi
untuk membersihkan diri. Bodohnya aku lupa karena aku bawa buku pinjaman
dari sekolah, aku lihat itu buku udah basah kuyup. Kukeringkan buku itu dengan
herdiyer, tapi masih aja basah. 3 jam aku keringkan buku itu, tapi alahamdulilah
bisa kering, meskipun jadi tambah lusuh dari yang awal aku pinjam.
TO BE CONTINUE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar