Rabu, 18 Juni 2014

MR. FOTOGRAFER




Kabut masih menyelimuti kotakku, hawa dingin yang masuk dicelah celah jendela kamar membuatku malas beranjak dari tempat tidur. Entah kenapa hari pertama aku sekolah tak ada kata yang special yang membuatku semangat. Dengan nyawa yang masih setenggah tertidur aku paksakan untuk beranjak dari kasur untuk mandi.

Dengan tas ransel coklat lusuh yang harusnya sudah diganti dengan yang baru aku berangakat tanpa semangat . Hari pertama sekolah identik dengan upacara penyambutan peserta didik baru dan pembagian kelas. Awalnya aku tidak masalah ditempatkan di kelas gedung biru, tapi setalah aku mengecek siapa saja yang satu kelas denganku, aku sontak kaget karena orang yang aku benci ternyata satu kelas. Meskipun agak kecewa dengan pembagian kelas yang tidak adil, tapi tetep aku jalani. Sesampai dikelas hanya ada 1 bangku yang kosong, dan sebelah bangku itu adalah sosok orang yang aku benci. Entah semalaman mimpi apa tiba tiba dinobatkan satu kelas dengan orang itu  dan satu bangku juga dengan orang itu.

Satu minggu sudah aku sebangku dengan dia. Awalnya aku tidak betah dan pengen pindah, tapi sialku juga karena tidak ada yang mau duduk dengan dia. Akhirnya kupaksakan untuk sebangku dengan dia sebulan, dua bulan hingga semester 1 ini berakhir. Tapi kami juga belum pernah saling sapa. Dua bulan terakhir ini aku sering memperhatikan dia, lama kelamaan dia sadar aku memperhatikannya. “ngapain lihat lihat?”. Sontak aku kaget “ohh,enggak cuman aneh aja kenapa kita ngak pernah saling bicara padahal kita udah lama banget satu bangku, harusnya seperti yang lain. Yang aku lihat mereka hanya dalam satu minggu saja bisa langsung akrab.” Orang itu cuman diem dan lihat aku sebentar, rasanya aku merasa bersalah. Mungkin  perkataanku tadi menyinggung dia. Dengan keadaan masih bersalah dan sama sama diem, kami dikejutkan dengan guru yang menobatkan kami menjadi satu kelompok tugas yang harus dikumpulkan minggu minggu ini.

Sehari setelah keajadian kemarin, aku beranikan diri menemui dia di perpustakan sekolah untuk membicarakan soal makalah. Dengan perasaan was was dan takut kalau dia marah lagi aku tetap menemui dia. “hai, maaf menggangu. Aku kesini mau bicara soal tugas makalah kemarin, harusnya kita buat makalah tentang apa ya,? Kamu punya ide?”. Dia tetep sibuk sama dunianya sendiri. Tiba tiba ngak tau kenapa dia bilang “kamu pinjem buku fotografi, temui aku pulang sekolah ditaman kota.” Aku langsung lari mencari buku yang menjadi referensi untuk tugas kami. Bel pulang sekolah yang kutunggu akhirnya berbunyi. Tanpa ganti baju dan makan, aku langsung lari ke taman kota. Tapi yang aku temui hanya orang orang yang tak ku kenal. 10 menit aku menunggu dia, 20 menit aku masih menunggu, dan satu jam lebih aku menunggu dia. Bodohnya aku tidak meminta no HP dia.  sebelum dia ngajak ketemuan tadi.

Langit sudah mulai hitam, menandakan hujan akan turun dia dan belum datang juga. Hujan turun dengan derasnya, aku berlari mencari tempat berteduh. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore, tapi dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Tiba tiba HP ku berdering, dan yang aku lihat ada 1 pesan masuk dari nomor yang tidak ku kenal. Aku buka “maaf hari ini aku ada acara mendadak, jadi aku ngak bisa bahas tugas kita. Mungkin besok sore kita bahas ditempat yang  sama. Nathan.” Dengan perasaan kecewa dan seperti dipermainkan, akhirnya kubalas dengan singkat “ya, aku tunggu besok. Ontime.” Tapi tiba tiba pesan ngak terkirim, tapi tetep aja aku kirim. Masih tidak trkirim juga. Dan aku beranikan diri untuk telpon dia dan ternyata “nomor yang anda tuju diluar jangkaun area”. sial, gumamku.

Dengan perasaaan masih dongkol dan males sama Nathan, aku menerobos hujan yang lama kelamaan semakin lebat. Akhirnya aku sampai rumah sekitar 05.00 sore, mamah udah siap siap makan mangsa yang baru pulang ini. Tanpa lihat mamah yang berdiri didepan pintu aku langsung masuk rumah “assalamualaikum”, “walaikumsalam” jawaban mamah yang beda dari biasanya. Aku langsung lari kekamar mandi  untuk membersihkan diri. Bodohnya aku lupa karena aku bawa buku pinjaman dari sekolah, aku lihat itu buku udah basah kuyup. Kukeringkan buku itu dengan herdiyer, tapi masih aja basah. 3 jam aku keringkan buku itu, tapi alahamdulilah bisa kering, meskipun jadi tambah lusuh dari yang awal aku pinjam.


TO BE CONTINUE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar